Jangan Salah Lagi! Perbedaan Muhrim dan Mahram yang Sering Disalahartikan

Seringkah Anda mendengar istilah muhrim dan mahram? Hati-hati! Kedua istilah tersebut sering terbalik-balik dalam sebuah percakapan. Banyak orang yang masih belum mengetahui arti serta perbedaan muhrim dan mahram ini. Dua kata tersebut tentu sangat berbeda artinya.

Kita sebagai umat muslim tentu perlu mempelajari ilmu agama islam, karena di dalam ajaran islam tersimpan semua mengenai pola hidup yang baik untuk kita serta mengatur segala bentuk yang halal dan haram. Termasuk seperti perbedaan muhrim dan mahram yang seringkali terbalik pengucapannya, padahal artinya pun berbeda.

Memang menurut teks Arabnya sama, tetapi memiliki perbedaan diharakatnya. Itulah mengapa kita harus memiliki ilmu tentang dua istilah ini serta mempelajarinya.

Berikut perbedaan muhrim dan mahram secara jelas pada ulasan artikel berikut ini.

Baca juga: Inilah Doa Untuk Pengantin Baru Lengkap Dengan Maknanya

Perbedaan Muhrim dan Mahram Secara Bahasa

1. Muhrim

Perbedaan Muhrim dan Mahram
Sumber: google/bersosial

Muhrim (huruf mim dibaca dhammah dan ra dibaca kasrah) diartikan menjadi orang yang sedang melakukan ihram.

Ketika jamaah haji atau umrah telah memulai melakukan di daerah miqat, kemudian mereka semua telah mengenakan pakaian ihramnya dan melepaskan semua larangan ihram, seperti tidak melakukan sebuah perkawinan dan tidak berhubungan suami istri, maka orang ini disebut dengan muhrim.

Kata muhrim tersebut dari kata Ahrama-Yuhrimu-Ihraaman-Muhrimun.

2. Mahram

Perbedaan Muhrim dan Mahram
Sumber: pexels.com

Mahram (huruf mim dan ra dibaca fathah) artinya adalah orang yang haram untuk dinikahi dikarenakan oleh sebab tertentu.

Apabila dilakukan maka akan mendapatkan dosa dan tidak diridhoi oleh Allah SWT.

Perbedaan Muhrim dan Mahram Secara Istilah

1. Muhrim

Perbedaan Muhrim dan Mahram
Sumber: google/bersosial

Muhrim merupakan kata dari sebuah subjek yaitu pelaku yang berasal dari “ihram”, yaitu seseorang yang telah mengenakan pakaian ihram untuk melaksanakan haji atau umroh.

Sebetulnya banyak dari kita yang tidak mengetahui bahwa muhrim itu adalah ihram.

Berikut ini contoh kalimat salah dalam penggunaan kata muhrim yang biasanya sering kita dengar di kehidupan sehari-hari:

“Jangan dekat-dekat, kita bukan muhrim, hukumnya dosa ! Laki-laki dan wanita dilarang jalan berduaan saja, jika kalian berdua bukan muhrimnya, karena ketiganya adalah setan.”

Bahkan sebagian besar dari kitapun meyakini hal itu. Makna muhrim yang kita yakini selama ini ternyata adalah salah, karena hal tersebut tidak sesuai dengan dasar hukum islam. Bahkan artinya pun sangat jauh berbeda. Jadi, sekali lagi makna muhrim itu adalah orang yang melakukan ihram.

2. Mahram

Perbedaan Muhrim dan Mahram
Sumber: pexels.com

Jadi, sebenarnya penggunaan istilah diatas yang tepat adalah mahram bukan muhrim. Karena arti dari muhrim itu sendiri adalah orang yang melakukan ihram, baik itu yang sedang haji atau umroh.

Sedangkan untuk mahram, Imam an-Nawawi memberikan batasan dalam sebuah definisi sebagai berikut:

Setiap wanita yang haram untuk dinikahi selamanya, disebabkan sesuatu yang mubah, karena statusnya yang haram. (Syarah Shahih Muslim, An-Nawawi, 9:105)

Dasar Hukum Mahram

Perbedaan Muhrim dan Mahram
Sumber: pexels.com

Terdapat golongan wanita yang haram untuk dinikahi atau mahram telah disebutkan dengan jelas di dalam Al-Quran terutama dalam surat An-Nisa ayat 23. Wanita-wanita ini sangat jelas disebutkan dalam ayat ini dan tentu hukumnya haram untuk dinikahi.

“Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu: anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu istrimu (mertua).

 

Anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya: (dan diharamkan bagimu) istri-istri anak kandungmu (menantu) dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa : 23)

Baca juga: Ingin Cepat Punya Anak? Baca Doa Agar Diberikan Keturunan Ini

Pembagian Mahram

Mahram terbagi menjadi dua golongan, yaitu mahram muabbad dan mahram ghoiru muabbad. Berikut ini penjelasan mengenai mahram dalam islam yang perlu Anda ketahui.

1. Mahram Mu’abbad

Perbedaan Muhrim dan Mahram
Sumber: google/bersosial

Mahram mu’abbad merupakan orang-orang yang haram melakukan pernikahan untuk selamanya.

Ada tiga kelompok mahram mu’abbad menurut fiqih, yaitu karena adanya hubungan nasab/kekerabatan, adanya hubungan pernikahan dan hubungan persusuan.

Mahram Karena Adanya Hubungan Nasab/ Kekerabatan

Berikut ini adalah orang-orang yang tidak boleh dinikahi seorang laki-laki karena ada hubungan kekerabatan:

  • Ibu, Nenek dan seterusnya ke atas
  • Anak perempuan
  • Saudara perempuan
  • Saudara perempuan ibu
  • Anak perempuan dari saudara laki-laki
  • Anak perempuan dari saudara perempuan

Mahram Karena Adanya Hubungan Pernikahan

Perempuan-perempuan yang menjadi mahram bagi laki-laki untuk selamanya, sebab ada hubungan pernikahan antara lain:

  • Ibu tiri, atau perempuan yang telah dinikahi oleh ayah
  • Menantu
  • Mertua
  • Anak dari istri yang telah digauli
  • Ulama- ulama yang memegang empat mazhab sepakat mengenai keharaman menikahi wanita-wanita pada poin sebelumnya, baik karena hubungan nasab maupun karena hubungan perkawinan.

Mahram Karena Hubungan Sepersusuan

Bila seorang anak menyusu kepada seorang perempuan, maka air susu yang ia minum tersebut nantinya akan menjadi darah dan daging dalam tubuhnya sehingga perempuan tersebut sudah hampir sama seperti ibunya sendiri.

Perempuan itu sendiri dapat menyusui karena kehamilan dari hubungannya dengan suaminya.

Maka, anak yang menyusu kepadanya juga terhubung dengan suaminya layaknya seorang anak terhubung kepada ayah kandungnya.

Kemudian keharaman melakukan perkawinan berlaku sebagaimana hubungan nasab. Para ulama pun berpendapat bahwa hubungan persusuan dapat timbul setelah 5 kali persusuan dan usia anak tidak lebih dari dua tahun.

2. Mahram GhairuMu’abbad

Perbedaan Muhrim dan Mahram
Sumber: pexels.com

Mahram Ghairu Mu’abbad merupakan orang-orang yang haram melakukan pernikahan untuk waktu tertentu atau sementara karena hal tertentu.

Apabila hal yang menghalangi tersebut sudah tidak ada, maka larangan itu tidak berlaku lagi. Berikut ini wanita yang termasuk dalam mahram sementara antara lain:

  • Wanita yang haram dinikahi karena hubungan persaudaraan dalam pernikahan. Maksudnya adalah seorang pria dilarang menikahi dua wanita yang bersaudara sekaligus atau jika wanita tersebut kakak-beradik.
  • Wanita yang akan menjadi istri kelima hukumnya haram dinikahi karena seorang laki-laki hanya bisa memiliki maksimal empat orang istri.
  • Haram untuk menikahi wanita yang sudah menikah dengan pria lain. Hal tersebut untuk mencegah terjadinya poliandri.
  • Wanita yang telah ditalak tiga maka bekas suaminya haram untuk menikahinya sampai wanita tersebut menikah dengan pria lain kemudian bercerai.
  • Hukumnya haram menikahi wanita pezina, sampai ia bertobat nasuha maka ia baru boleh dinikahi.
  • Wanita yang berbeda agama disepakati oleh para ulama bahwa ia haram untuk dinikahi kecuali ia telah masuk islam atau menjadi mualaf.
  • Wanita yang berada dalam masa iddah setelah proses cerai.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Muhrim dan Mahram

Perbedaan Muhrim dan Mahram
Sumber: google/bersosial

1. Dilarang dan haram hukumnya menikah dengan mahram Saudara Ipar, apakah itu mahram?

Saudara ipar bukan termasuk mahram. bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan agar berhati-hati dalam melakukan pergaulan bersama ipar.

Memang ada dalilnya? Ada. Bahkan pernah ada seorang sahabat yang bertanya:

“Ya Rasulullah, bagaimana hukum kakak ipar?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Saudara ipar adalah kematian.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Maksud dari hadits di atas adalah interaksi dengan kakak ipar bisa menjadi sebab timbulnya maksiat dan kehancuran. Karena orang mudah untuk bebas bergaul dengan iparnya, tanpa ada pengingkaran dari orang lain.

Dengan begitu, interaksinya lebih membahayakan daripada berinteraksi dengan orang lain yang tidak memiliki hubungan keluarga. Nah, justru kondisi semacam ini akan memudahkan mereka untuk terjerumus ke dalam rundung perzinaan.

2. Apakah Sepupu bukan mahram?

Dalam islam, kita boleh menikahi sepupu. Istri paman atau suami bibi, bukan mahram?

Misalnya: Redi punya paman (Rizky), istri Rizky bukan mahram bagi Redi. Atau Dina punya bibi (Desy), suami Desy bukan mahram bagi Dina.

Semoga informasi tentang perbedaan muhrim dan mahram di atas dapat bermanfaat bagi yang membacanya.

Jangan sampai salah lagi dalam menyebut atau mengartikan kedua istilah tersebut.

Boleh bagikan artikel ini, agar yang lain bisa mengetahui kebenaran tentang makna muhrim dan mahram.

Ingin membaca artikel menarik lainnya? Bisa Anda temukan informasi lainnya pada situs blog Evermos.

×