Begini Cara Menghitung BEP (Break Even Point) untuk Kegiatan Bisnis

Apakah Anda seorang pebisnis? Tentu Anda sering membuat keputusan terkait investasi untuk pengembangan pemasaran. Nah, Anda harus tahu cara menghitung BEP (Break Even Point).

Break Even Point ini fungsinya untuk menghitung berapa tahun perusahaan dapat menghasilkan keuntungan atau untuk memastikan kapan usaha Anda mengalami balik modal.

Ingin tahu lebih lanjut seputar Break Even Point? Simak artikel ini hingga tuntas!

Baca juga: Terapkan 6 Langkah Ini Untuk Membangun Bisnis Sampingan Sambil Kerja

Apa Itu Break Even Point?

Cara Menghitung BEP
Sumber: pexels.com

Break even point atau nama lain dari analisis titik impas diartikan sebagai suatu keadaan atau titik di mana perusahaan dalam kegiatan operasinya tidak memperoleh keuntungan dan tidak mengalami kerugian juga.

Singkatnya, break even point adalah titik impas antara besar jumlah laba dan biaya suatu perusahaan dalam posisi yang sama atau seimbang, sehingga dalam prosesnya tidak mendapatkan keuntungan dan kerugian.

Lalu apa saja fungsi, komponen serta bagaimana cara menghitung break even point? Selengkapnya akan dijelaskan di bawah ini.

Fungsi Break Even Point

Cara Menghitung BEP
Sumber: pexels.com

Berikut beberapa fungsi dari melakukan perhitungan Break Even Point, diantaranya:

1. Lebih Aware dengan Dana

Anda dapat mengukur apakah fixed cost, variabel cost dan biaya-biaya lainnya sudah sesuai dengan yang diinginkan. Anda tentu tidak ingin terlalu lama dalam mencapai BEP sehingga dengan melakukan perhitungan BEP dan Anda dapat menentukan apakah dana tersebut terlalu besar untuk diterapkan.

2. Dapat Digunakan sebagai Proyeksi :

  • Berapa volume unit yang diperlukan untuk mencapai target BEP. Sehingga bisa menentukan target penjualan secara harian, bulanan, mingguan, hingga tahunan.
  • Berapa nominal rupiah penjualan yang harus dicapai sehingga mendapatkan balik modal dan memproyeksikan kapan sudah dapat mendapatkan keuntungan.

Komponen Break Even Point

Cara Menghitung BEP
Sumber: pexels.com

Dalam menghitung berapa besar BEP atau titik impas tentu saja memerlukan komponen-komponen. Berikut ini merupakan komponen dari BEP:

  1. Biaya Tetap (Fixed Cost), baik ketika perusahaan sedang berproduksi maupun tidak berproduksi.
  2. Biaya Variable (Variabel Cost), Komponen ini bersifat dinamis dan bergantung pada tingkat volume produksinya. Jika produksi meningkat, maka biaya variabel juga akan meningkat.
  3. Harga Jual (Selling Price), harga jual per unit barang atau jasa yang telah diproduksi.

Baca juga: 5 Hal yang Harus Diketahui Sebelum Melalui Bisnis Reseller

Cara Menghitung Break Even Point

Cara Menghitung BEP
Sumber: pexels.com

1. BEP Berdasarkan Unit

Titik pulang pokok (BEP) yang dinyatakan dalam jumlah penjualan produk di nilai tertentu. Dalam hal ini kita akan memperkirakan pada jumlah produk ke berapa bisnis kita akan mengalami balik modal atau Break Even Point.

Maka rumusnya:

BEP Unit = (Biaya Tetap) / (Harga per unit – Biaya Variable per Unit)

Contoh Perhitungan dengan Rumus BEP Unit

Pak Rahmat memiliki sebuah usaha toko sepeda dengan fixed cost sebesar Rp. 5.000.000,- Variable Cost adalah sebesar Rp. 200.000,-/unit, dengan harga jual Rp. 1.500.000,-/unit.

Maka, dapat dihitung BEP per unitnya yaitu :

BEP Unit = (Biaya Tetap) / (Harga per unit – Biaya Variable per Unit)
= Rp. 5.000.000,-/ (Rp. 1.500.000,-  – Rp. 200.000,-)
= Rp. 5.000.000,- / Rp.1.300.000,-
= 3.84 pembulatan ke atas menjadi 4 unit

Dengan begitu, Pak Rahmat dapat mengalami balik modal jika mampu menjual 4 unit sepeda dalam satu bulannya. Pada penjualan sepeda ke 5, maka Rahmat sudah menuai keuntungan karena biaya tetap sudah tertutupi oleh penjualan 4 unit sepeda sebelumnya.

2. BEP Berdasarkan Nominal Rupiah

Menghitung titik pulang pokok, dalam jumlah penjualan atau harga penjualan (P) tertentu. Dalam hal ini kita akan memperkirakan pada jumlah nominal penjualan berapa bisnis akan mengalami balik modal atau Break Even Point.

Maka rumusnya:

BEP Rupiah = (Biaya Tetap) / (Kontribusi Margin per unit / Harga per Unit)

Contoh Perhitungan dengan Rumus BEP Rupiah

Pak Dedi memiliki sebuah toko mebel dengan fixed cost sebesar Rp. 10.000.000,- Variable Cost usahanya adalah sebesar Rp. 500.000,-/unit, dengan harga jual Rp. 2.500.000,-/unit .

Maka, dapat dihitung BEP rupiahnya yaitu :

BEP Rupiah = (Biaya Tetap) / (Kontribusi Margin per unit / Harga per Unit)
= Rp. 10.000.000,- / (harga jual – variabel cost)/harga per unit
= Rp. 10.000.000,- /(2.500.000,- – 500.000,-)/2.500.000,-
= Rp. 10.000.000,-/0.8
= Rp. 12.500.000,-

Dengan begitu, Pak Dedi dapat mengalami BEP ketika angka penjualan sudah mencapai Rp. 12.500.000,- setelah melewati jumlah penjualan tersebut, misalnya pada angka rupiah sebesar Rp. 20.000.000,- maka Pak Dedi sudah balik modal atau BEP sehingga penjualan setelahnya Pak Dedi sudah bisa menghitung keuntungan.

Demikianlah informasi mengenai Break Even Point mulai dari pengertian, fungsi, komponen, hingga cara perhitungannya.

Semoga informasi ini dapat bermanfaat, semoga bisa membantu Anda untuk mengaplikasikan hitungan Break Even Point ini pada bisnis atau usaha Anda. Selamat mencoba!

Ingin menemukan informasi menarik lainnya? Kunjungi artikel lainnya pada situs blog Evermos.

×