Home » Pahami dengan Benar! Kedudukan Transaksi Jual Beli dalam Syariat Islam

Pahami dengan Benar! Kedudukan Transaksi Jual Beli dalam Syariat Islam

by Risma Novianti
0 comment

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak terlepas dari kegiatan transaksi jual beli. Sebagai manusia yang berada di deen Islam, tentu saja harus melakukan transaksi jual beli dalam syariat Islam.

Praktik jual beli dalam Islam sangat penting kedudukannya. Hal ini dapat kita lihat dari banyaknya aturan dan larangan yang tertulis dalam Al-Qur’an mengenai rukun dan syarat jual beli dalam Islam.

Sumber tulisan ini diambil dari KASENSOR (Kajian Senin Sore) yang merupakan salah satu sebuah program rutin mingguan di Evermos.

Topik tentang bagaimana kedudukan transaksi jual beli dalam syariat Islam ini disampaikan oleh ustadz Rayk Manggala Syah Putra selaku Dewan Pengawas Syariah Evermos.

Berikut ini akan penulis rangkum informasi materi Kasensor secara terstruktur.

Baca juga: Patut Kita Contoh! Beginilah Generasi Terbaik Berbisnis dalam Islam

Definisi Jual Beli

Transaksi Jual Beli dalam Syariat Islam

Sumber: pexels.com

Pembahasan terkait jual beli dalam islam terbagi menjadi 2 bagian yaitu secara bahasa dan secara istilah.

Secara bahasa, jual beli berasal dari kata al-bay’u yang memiliki arti mengambil dan memberikan sesuatu. Ada juga yang mengartikan sebagai aktivitas menukar harta dengan harta.

Kata al-bay’u adalah turunan dari kata al-bara yang memiliki arti depa. Mengapa depa? Karena pada saat itu orang arab mengulurkan depa mereka saat melakukan transaksi jual beli.

Kemudian diiringi dengan saling menepukkan tangan sebagai pertanda bahwa seluruh transaksi/akad telah berjalan dengan lancar dan telah terjadi perpindahan kepemilikian (taqabudh).

Sedangkan secara istilah, jual beli artinya transaksi tukar menukar yang memiliki dampak yaitu bertukarnya kepemilikan (taqabbudh). Tidak akan bisa sah bila tidak dilakukan beserta akad yang benar baik yang dilakukan dengan cara verbal/ucapan maupun perbuatan.

Hukum Jual Beli

Transaksi Jual Beli dalam Syariat Islam

Sumber: pexels.com

Hukum asal jual beli  adalah mubah, namun terkadang hukumnya bisa berubah menjadi wajib, haram, sunat dan makruh tergantung situasi dan kondisi berdasarkan asal maslahat.

Dasar Hukum Jual Beli Dari Beberapa Sumber

Transaksi Jual Beli dalam Syariat Islam

Sumber: pexels.com

1. Dasar Hukum Jual Beli Dari Al-Qur’an

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 275 yang berbunyi:

ٱلَّذِينَ يَأْكُلُونَ ٱلرِّبَوٰا۟ لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ ٱلَّذِى يَتَخَبَّطُهُ ٱلشَّيْطَٰنُ مِنَ ٱلْمَسِّ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوٓا۟ إِنَّمَا ٱلْبَيْعُ مِثْلُ ٱلرِّبَوٰا۟ ۗ وَأَحَلَّ ٱللَّهُ ٱلْبَيْعَ وَحَرَّمَ ٱلرِّبَوٰا۟ ۚ فَمَن جَآءَهُۥ مَوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّهِۦ فَٱنتَهَىٰ فَلَهُۥ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُۥٓ إِلَى ٱللَّهِ ۖ وَمَنْ عَادَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ أَصْحَٰبُ ٱلنَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَٰلِدُونَ

Allażīna ya`kulụnar-ribā lā yaqụmụna illā kamā yaqụmullażī yatakhabbaṭuhusy-syaiṭānu minal-mass, żālika bi`annahum qālū innamal-bai’u miṡlur-ribā, wa aḥallallāhul-bai’a wa ḥarramar-ribā, fa man jā`ahụ mau’iẓatum mir rabbihī fantahā fa lahụ mā salaf, wa amruhū ilallāh, wa man ‘āda fa ulā`ika aṣ-ḥābun-nār, hum fīhā khālidụn.

Artinya: “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.”

2. Dasar Hukum Jual Beli Dari As Sunnah

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَفْتَرِقَا فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِى بَيْعِهِمَا وَإِنْ كَتَمَا وَكَذَبَا مُحِقَتِ الْبَرَكَةُ مِنْ بَيْعِهِمَا

Artinya: “Penjual dan pembeli masing-masing memiliki hak pilih (khiyar) selama keduanya belum berpisah. Bila keduanya berlaku jujur dan saling terus terang, maka keduanya akan memperoleh keberkahan dalam transaksi tersebut. Sebaliknya, bila mereka berlaku dusta dan saling menutup-nutupi, niscaya akan hilanglah keberkahan bagi mereka pada transaksi itu.” (HR. Bukhari 2079 dan Muslim 1532)

Baca juga: Pahami Konsep Fikih Muamalah dalam Syariat Islam Berikut Ini

3. Dasar Hukum Jual Beli Dari Ijma’ dan Qiyas

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Dr. Yusuf Subaily bahwasannya para ulama bersepakat tentang mubahnya transaksi jual beli.

Di sisi lain, seorang manusia sangat membutuhkan barang-barang yang dimiliki oleh manusia yang lain dan jalan untuk memperoleh barang orang lain tersebut dengan cara bai’ dan islam tidak melarang manusia melakukan hal-hal yang berguna bagi mereka.

Rukun dan Syarat Jual Beli

Transaksi Jual Beli dalam Syariat Islam

Sumber: pexels.com

  1. Ijab wa qabul (ungkapan ijab yang keluar dari pembeli, dan qabul ungkapan persetujuan yang kelua dari penjual).
  2.  Pihak yang berakad. Artinya, ada secara jelas pihak yang membeli dan menjual
  3. Barang (objek) yang diakadkan.Syarat barang yang dijualbelikan itu harus bersih (suci), dapat dimanfaatkan, sepenuhnya milik pihak yang berakad, dapat diserahterimakan, diketahui harga dan jenis barangnya secara jelas, dan berada di tangan yang berakad.
  4. Adanya kesaksian, Allah memerintahkan perlunya saksi dalam jual beli, supaya jual beli terlaksana dengan baik dan benar sesuai dengan syariat islam.

Demikianlah informasi mengenai kedudukan transaksi jual beli dalam syariat Islam yang perlu Anda ketahui.

Semoga pemaparan informasi di atas dapat bermanfaat untuk kita semua.

Setelah mengetahui informasi ini, hendaknya kita lebih memperhatikan aturan transaksi jual beli sesuai dengan syariat Islam dan meninggalkan sesuatu yang haram.

Nantikan materi Kasensor selanjutnya hanya di situs blog Evermos. 

Related Posts