Selamat Hari Radio Nasional, Simak Fakta dan Sejarahnya Disini!

Apakah kalian masih mendengarkan Radio? Ternyata pada tanggal 11 September adalah hari yang penting bagi dunia komunikasi dan informasi Indonesia, karena di tanggal ini, Radio Republik Indonesia (RRI) lahir dan hingga kini diperingati sebagai Hari Radio Nasional. 

Di dunia yang sudah serba digital seperti sekarang, untuk mendengarkan lagu orang memang sudah banyak beralih menggunakan aplikasi streaming. Meski demikian, radio tetap mendapat tempat di hati para penggemarnya, lho.

Melalui trending Selamat Hari Radio Nasional di Twitter, banyak para penggemar radio berbagi cerita. Sebagian besar mengaku masih mendengarkan radio, meski mungkin tidak sesering dulu.

Nah, akan tetapi di tanggal itu pula masyarakat Indonesia merayakan hari lahir Radio Republik Indonesia.

Pertanyaannya kemudian “Bagaimana bisa di hari yang sama terdapat dua peringatan?”.

Rupanya keduanya saling berkaitan berdasarkan empat fakta Hari Radio Nasional tanggal 11 September yang dirangkum dalam berbagai sumber. 

Fakta Bersejarah Dibalik Hari Radio Nasional

1. Lahirnya RRI karena terhentinya siaran radio Hoso Kyoku

Hari Radio Nasional
Sumber: pexels.com

Pada tanggal 19 Agustus 1945 siaran radio Hoso Kyoku dihentikan.

Akibatnya, masyarakat Indonesia yang baru merdeka buta akan beragam informasi.

Di tengah kondisi itulah tersiar kabar lewat radio bahwa Inggris akan melucuti Jepang sekaligus menjaga keamanan hingga Belanda mampu menjalankan kekuasaannya.

Hal itu menjadikan orang-orang yang aktif di radio pada masa penjajahan Jepang sadar jika radio diperlukan sebagai corong informasi dan komunikasi pemerintah Republik Indonesia dengan rakyatnya.

2. Pada tanggal 11 September 1945 muncul imbauan agar pemerintah mendirikan radio

Menyadari pentingnya keberadaan radio, Abdulrahman Saleh, Adang Kadarusman, Soehardi, Soetarji Hardjolukita, Soemarmadi, Sudomomarto, Harto, dan Maladi mengadakan pertemuan tanggal 11 September 1945 pukul 17.00.

Kedelapan perwakilan eks stasiun radio Hosu Kyoku tersebut berkumpul di gedung Raad Van Indje Pejambon untuk membahas berbagai hal terkait pendirian radio.

Salah satunya adalah mengimbau kepada pemerintah untuk mendirikan radio yang bisa digunakan sebagai alat komunikasi antara pemerintah dengan rakyat.

Komunitas yang lebih cepat dan tidak mudah terputus saat pertempuran menjadi alasan mengapa radio mempunyai fungsi sebagai alat komunikasi.

3. Terdapat tiga simpulan dari pertemuan kedelapan perwakilan eks stasiun radio Hosu Kyoku di gedung Raad Van Indje Pejambon

Hari Radio Nasional
Sumber: pexels.com

Di akhir pertemuan, Abdulrachman Saleh selaku ketua delegasi membuat tiga simpulan antara lain:

  1. Pembentukan Persatuan Radio Republik Indonesia yang akan meneruskan penyiaran dari 8 stasiun di Jawa
  2. Mempersembahkan RRI kepada Presiden dan Pemerintah RI sebagai alat komunikasi dengan rakyat
  3. Mengimbau supaya semua hubungan antara pemerintah dan RRI disalurkan melalui Abdulrachman Saleh

4. Abdulrachman Saleh menjadi pimpinan RRI yang pertama

Setelah mengadakan rapat di gedung Raad Van Indje Pejambon, delapan perwakilan stasiun radio di Jawa mengadakan pertemuan di rumah Adang Kadarusman.

Tepatnya pada tanggal 11 September 1945 pukul 24.00.

Adapun perwakilan rakyat ikut dalam pertemuan tersebut adalah Soemarmad dan Soedomomarto dari Yogyakarta; Soetaryo dari Purwokerto; Maladi dan Soetardi Hardjolukito dari Surakarta; Soehardi dan Harto dari Semarang; serta Darya, Sakti Alamsyah, dan Agus Marahsutan dari Bandung.

Namun, karena tidak adanya perwakilan daerah Surabaya dan Malang tidak ikut dalam rapat.

Keputusan dari rapat tersebut adalah mendirikan Radio Republik Indonesia (RRI) dengan Abdulrachman Saleh sebagai pemimpin.

Pada hari ini kita kembali merayakan kehadiran radio sebagai media yang menjadi penyalur informasi dan hiburan dari masa sebelum kemerdekaan hingga kini.

Pada awal tahun 2010, industri radio sempat ada yang memprediksi akan gulung tikar karena adanya televisi dan juga internet.

Namun sampai sekarang banyak kanal radio yang masih mengudara, menghibur dan memberikan konten menarik bagi para pendengarnya.

Industri radio di Indonesia dipaksa untuk terus berkembang mengikuti modernisasi zaman yang sangat cepat ini.

Tidak sedikit orang mengaku senang mendengarkan radio karena bisa sambil melakukan aktivitas apapun. Kebanyakan, mereka akan mendengarkannya saat sedang dalam perjalanan menggunakan mobil.

Tak hanya itu, banyak juga yang bernostalgia bagaimana mereka memanfaatkan radio dulu. Mulai dari kirim-kirim salam, sampai request lagu favorit.

Selamat Hari Radio Nasional! Semoga terus menginspirasi para pendengar dan mendukung musik Indonesia.

Ingin membaca artikel menarik lainnya? Jangan lupa untuk kunjungi situs Blog Evermos.

×