Home » Patut Kita Contoh! Beginilah Generasi Terbaik Berbisnis dalam Islam

Patut Kita Contoh! Beginilah Generasi Terbaik Berbisnis dalam Islam

by Risma Novianti
0 comment

Begitu mendengar ungkapan “generasi terbaik”, tentunya cukup mengundang penasaran, apakah memang benar ada dalam perjalanan sejarah umat manusia suatu generasi yang tentunya memiliki berbagai kesempurnaan dalam pencapaiannya? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari simak artikel tentang generasi terbaik berbisnis dalam islam.

Sumber tulisan ini diambil dari KASENSOR (Kajian Senin Sore) yang merupakan salah satu sebuah program rutin mingguan di Evermos.

Topik tentang generasi terbaik berbisnis dalam islam ini disampaikan oleh ustadz Rayk Manggala Syah Putra selaku Dewan Pengawas Syariah Evermos. Berikut penulis rangkum informasi yang disajikan secara terstruktur.

Baca juga: Inilah Perbedaan Asuransi Syariah dan Konvensional Dalam Syariat Islam

Siapa Generasi Terbaik Berbisnis dalam Islam?

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda;

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

Artinya: “Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian orang-orang yang mengiringinya, kemudian orang-orang yang mengiringinya.” (HR. Muslim No. 2533)

Dari hadits di atas,  dijelaskan bahwa generasi terbaik adalah generasi Rasulullah. Maksudnya pada masa Rasulullah yang hidup bersama para sahabat.

Selanjutnya, masa setelah sahabat adalah masa tabi’in, pengikut para sahabat. Setelah itu adalah masa tabi’ut tabi’in yakni pengikut tabi’in, dan seterusnya.

Lalu para ulama mengatakan, semakin dekat sebuah generasi dengan eranya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, maka itu generasi terbaik.

Sedangkan kita semakin jauh dari generasi Rasulullah, makannya terkadang pemahaman tentang ilmu syariatnya juga ala kadarnya.

Tapi akan amat disayangkan jika kita tidak belajar dari generasi terbaik ini. Coba bayangkan kalau kita punya sosok-sosok terbaik dari zaman Rasulullah.

Misalnya, Abdurahman bin Auf, bagaimana dirinya bisa  menghabiskan ribuan dinar. Lalu Khadijah menghabiskan seluruh hartanya demi kepentingan berdakwah Rasulullah.

Bagaimana Agar Bisa Mencapai Generasi Terbaik? 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

هُوَ الَّذِىۡ جَعَلَ لَـكُمُ الۡاَرۡضَ ذَلُوۡلًا فَامۡشُوۡا فِىۡ مَنَاكِبِهَا وَكُلُوۡا مِنۡ رِّزۡقِهٖ‌ؕ وَاِلَيۡهِ النُّشُوۡرُ

Artinya: “Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (Al Mulk:15)

Selain itu, dalam QS. Al-Baqarah, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

هُوَ الَّذِىۡ خَلَقَ لَـكُمۡ مَّا فِى الۡاَرۡضِ جَمِيۡعًا ثُمَّ اسۡتَوٰۤى اِلَى السَّمَآءِ فَسَوّٰٮهُنَّ سَبۡعَ سَمٰوٰتٍ‌ؕ وَهُوَ بِكُلِّ شَىۡءٍ عَلِيۡمٌ

Artinya: “Dialah (Allah) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untukmu kemudian Dia menuju ke langit, lalu Dia menyempurnakannya menjadi tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al-Baqarah: 29)

Dari ayat Al-Qur’an tersebut menjelaskan bahwa Allah menciptakan langit dan bumi beserta isinya ini untuk dimanfaatkan kepentingan umat manusia. Allah menjadikan seluruh potensi manusia yang bisa digarap ini bukan berarti tanpa batasan, akan tetapi diatur sedemikian rupa. agar proses pemanfaatan harus betul-betul bermanfaat.

Untuk bisa mencapai generasi terbaik, maka kita harus ingat pada QS. Ad-Dzariyat:56 sebagai berikut:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Artinya: “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”

Dari ayat tersebut, kita dapat mengetahui bahwa dunia itu sebagai sarana pendukung untuk ketundukan kita kepada Allah yaitu untuk beribadah.

Nah, dengan beribadah tersebut tentu kita membutuhkan harta. Tidak cukup dengan doa. Untuk mendapatkan harta itu kita perlu berusaha (effort) dengan bekerja, berbisnis dan lain sebagainya agar bisa bisa menunaikan berbagai macam kewajiban yang Allah berikan kepada kita.

Maka dari itu, Allah memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada manusia untuk bereksplorasi meraih rizki di muka bumi Allah ini.

Baca juga:

Bagaimana Pengaplikasiannya dalam Berbisnis atau Berdagang? 

Untuk berdagang sekalipun, niatkanlah sebagai bentuk ketundukan kita kepada Allah.

Seperti Sahabat Nabi yaitu Abdurahman bin Auf, sahabat generasi awal-awal yang masuk islam dan yang mendengarkan dakwah nabi SAW.

Mentalitas yang dibentuk oleh Nabi kepada sosok Abdurahman bin Auf ini adalah mentalitas yang meyakini bahwasannya Allah lah yang menetapkan segala hal kepada Abdurahman bin Auf.

Nah, seharusnya mentalitas ini juga yang kita miliki. Untuk menjadi generasi terbaik, modalnya dari sini.

Seperti contoh kasus dalam jualan adanya CLBK (Chat Lama Beli Kagak). Kalau kita mendapati yang seperti itu, sebaiknya yakinilah bahwa hal tersebut merupakan ketetapan dari Allah.

Hal perlu kita lakukan adalah menyandarkan seluruh hasilnya kepada Allah dan ikhtiar semaksimal mungkin.

Konsepnya jangan lupa surat At Thalaq ayat 2-3 yang artinya:

“Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa, maka Allah akan berikan jalan keluar. Dan Allah akan berikan rezeki dari arah yang ia tidak sangka-sangka. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah dan menyandarkan seluruh hasilnya atau urusannya kepada Allah, maka Allah akan cukupkan kebutuhannya.”

Jadi, kuncinya adalah di MINDSET. Kalau kita berhusnudzan kepada Allah, insya Allah, Allah akan bukakan setiap pintu kebaikan yang memang menjadi hak kita. Jadi, kita tidak  perlu khawatir akan rezeki.

Hindarilah prasangka buruk atau suudzan, dan mempertanyakan kehendak Allah. Padahal kehendak Allah itu Maha Baik dengan segala keputusannya kepada setiap hamba-hamba-Nya.

Bagaimana Sikap Terbaik Kita dalam Berjualan? 

Sebagai contoh dalam berjualan ada pertanyaan seperti ini:  “Kita mengejar omset itu sejauh mana?” Jawabannya adalah ketika setiap rupiah, setiap inci keuntungan yang kita dapatkan ada pertanggungjawabannya.

Jadi, ingin menargetkan berapapun silahkan, tapi kira-kira kita bisa mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah atau tidak?

Lalu, untuk ikhtiarnya sejauh mana?

Silahkan berikhtiar sampai mencapai target tersebut, tapi ingatlah Allah akan mempertanyakan yang berkaitan dengan harta. Ada 2 pertanyaan, yakni sumbernya dan dikemanakan dibelanjakan.

Hal tersebut didukung oleh sebuah hadits berikut ini:

لَا تَزُوْلُ قَدَمَا ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ شَبَابِهِ فِيْمَا أَبْلَاهُ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ وَمَاذَا عَمِلَ فِيْمَا عَلِمَ

Artinya: “Tidaklah bergeser kedua kaki seseorang hamba pada hari kiamat, sehingga ditanyakan, tentang umurnya dihabiskan untuk apa, tentang ilmunya diamalkan atau tidak, tentang hartanya, dari mana dia peroleh dan kemana dia habiskan, tentang tubuhnya, capek/lelahnya untuk apa.” (HR. At Tirmidzi No. 2416, tercantum pada kitab Riyadhush Shalihin No. 407)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda;

“Sungguh, salah seorang diantara kalian mencari kayu bakar dan memanggulnya di punggung, maka itu lebih baik daripada meminta-minta kepada seseorang, baik dia mendapatkannya ataupun tidak.” (HR. Bukhari No. 2074)

Bisa jadi harta yang kita dapatkan sumbernya halal, tetapi malah dibelanjakannya nonton bioskop, langganan netflix untuk nonton drakor, dan lain sebagainya. Tentu hal tersebut perlu dipertanggungjawabkan.

Ingat, setiap rupiah yang dikeluarkan, itu akan dimintai pertanggungjawaban. Jadi, kita harus memastikan benefit yang dihasilkan dari harta yang bisa kita raih itu untuk akhirat.

Problema dalam jualan lainnya yaitu terkadang kita manusiawi dan lebih banyak ngedumel. Itu bagaimana?

Dalam hadits, Allah menyukai seseorang yang apabila dalam melakukan pekerjaan, ia melakukannya dengan profesional.

Kalau Allah sudah cinta pada seorang hamba, maka Dia akan mempermudah berbagai macam urusannya.

Di sini Allah menegaskan kepada kita bahwasannya yang terpenting usahanya profesional.

Noted

Apabila kita dihadapkan dengan CLBK (Chatting Lama Beli Kagak), sebaiknya kita merasa bersyukur ketika ada orang yang bertanya berapa harganya langsung membeli dan segera transfer.

Jangan sampai kita terlalu fokus pada sesuatu pada kenangan buruk, tapi kita lupa bersyukur pada chatting-chating yang ringkas dan mudah.

Percayalah, Allah itu menguji hamba sesuai dengan kemampuannya. Yang terpenting adalah setiap ikhtiar yang kita lakukan itu profesional.

Jadi, walaupun CKBK, dalam melayani calon konsumen hendaklah tetap santun, penjelasannya tetap baik, insya Allah kalau tidak dari jalur situ, Allah akan memberikan pintu rezeki yang lain.

Disitulah cara Allah mengingatkan kita untuk belajar, akhirnya product knowledge kita bertambah. Akhirnya bisa eksplor untuk memperbaiki diksi, atau cara menghandle customer dengan baik.

Kalau dalam jualan lurus-lurus aja, justru tantangan atau experience-nya itu tidak ada. Padahal pengalaman itu sangat penting, untuk selalu meng-upgrade kemampuan diri kita.

Maka dari itu Allah seringkali memberikan ujian kepada hamba-Nya dalam rangka agar hamba-Nya bisa naik level.

Hendaknya kita bersyukur ketika Allah memberi ujian. Itu adalah kesempatan kita untuk naik level. Masya Allah.

Demikianlah artikel tentang generasi terbaik berbisnis dalam islam yang disampaikan oleh Ustadz Rayk Manggala Putra.

Semoga informasi ini dapat bermanfaat untuk kita semua. Boleh bagikan artikel ini dalam rangka untuk mengingatkan kebaikan pada sesama.

Semangat berikhtiar dalam menjemput rezeki, semoga kita termasuk dalam generasi terbaik pengikut Rasulullah SAW. Aamiin Ya Rabbal’alamiin.

Nantikan dan jangan lewatkan artikel menarik KASENSOR lainnya, hanya di situs blog Evermos. 

Related Posts