Cara Mendidik Anak dengan Islam Sesuai Umur Ala Rasulullah SAW

Bagaimana cara mendidik anak dalam Islam sesuai umur? Bagi para Bunda, tentunya tidak perlu khawatir lagi sebab kita patut untuk mencontoh teladan Nabi Muhammad SAW.

Nabi Muhammad SAW sebagai suri tauladan umat manusia, memberikan contoh kepada umatnya dalam menata urusan rumah tangga, tak terkecuali dalam cara mendidik anak perempuan dan cara mendidik anak laki2.

Kelahiran buah hati tentunya menjadi momen yang didamba-dambakan bagi para orangtua.

Para orangtua menginginkan anaknya menjadi individu yang mampu berkembang dan berproses hingga baik.

Sebab, saat ini masih terdapat banyaknya kesalahan mendidik anak.

Mengutip Kompas dalam Rohika, ada sejumlah dampak negatif pada pengasuhan anak yaitu perasaan mudah tersinggung dan mudah putus asa bagi anak, serta anak memiliki daya juang yang lemah.

Anak akan melewati proses usia yang dimana akan memiliki kebutuhan berbeda-beda pula.

Oleh karenanya, sebagai orangtua yang ingin memberikan terbaik bagi anaknya, penting mengetahui cara mendidik anak dalam Islam sesuai umur.

Cara Mendidik Anak dalam Islam Sesuai Umur

Kedudukan anak di keluarga dalam Islam juga dijelaskan dalam firman Allah SWT.

Setiap dari kita merupakan titipan, yang artinya akan menjadi amanah ketika kita di dunia dan menjadi hal yang dipertanggungjawabkan.

Hal ini sesuai dengan firman Allah di surat At-Tahrim ayat 6, 

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Lalu bagaimana cara mendidik anak dalam Islam sesuai umur atau tahapannya? Berikut Tim Evermos sajikan ulasannya.

1. Usia Dini (Umur 0-7 Tahun)

Cara mendidik anak dalam Islam sesuai umur
Sumber: unsplash.com

Pada masa ini, anak-anak membutuhkan banyak perhatian dan curahan kasih sayang dari kedua orangtuanya.

Rasulullah SAW mencontohkan kepada umatnya untuk memanjakan, mengasihi, dan menyayangi anak tanpa membedakan satu sama lainnya.

Dalam usia tersebut, tumbuh kembang anak akan seiring dengan perubahan lingkungannya.

Anak aktif untuk mengeksplorasi lingkungan dan dirinya, maka dari itu ia membutuhkan bimbingan agar tidak salah dalam mengambil keputusan.

Ketika anak melakukan kesalahan, maka janganlah memberikan hukuman fisik seperti mendorong, mendegungkan, atau memukul si anak. 

Cukup dengan menegur dan mengingatkan si anak sambil memberi tahu dampak buruk yang dilakukan dari perbuatan si anak.

2. Usia Remaja (Umur 7-14 Tahun)

Cara mendidik anak dalam Islam sesuai umur
Sumber: unsplash.com

Apabila sang anak sudah sampai umur 7 hingga 14 tahun, sang anak sudah tiba memiliki rasa penasaran atau rasa ingin tahu yang tinggi.

Anak sudah dapat dibelajarkan untuk mengenal rasa tanggungjawab terhadap dirinya sendiri.

Maka dari itu, kita sebagai orangtua dapat mendidik anak untuk bisa bertanggungjawab terhadap urusan pribadinya, seperti merapihkan kamarnya sendiri, makan pada waktunya.

 Pada masa ini, anak-anak disebut sebagai fase mummayyiz, atau sudah mulai memasuki akil baligh.

Sehingga anak-anak dapat diajarkan mengenai pendidikan agama agar terbiasa seperti shalat lima waktu, belajar doa-doa, dan belajar membaca Al-Quran.

Apabila anak berbuat pelanggaran, maka berikan hukuman sesuai kesepakatan yang dapat mendidik mereka agar mau mengubah kesalahan tersebut.

Dalam Islam, Nabi Muhammad SAW mendidik a5gar anak dapat menjalankan shalat lima waktu dan ketika sang anak tidak mau mematuhinya mereka akan mendapatkan hukuman berupa dipukul.

Pukulan tersebut dimaksudkan sebagai hukuman bagi sang anak agar merasa jera tidak mematuhi perintah Allah SWT.

Hal ini lebih baik ketimbang sang anak tidak mendapatkan hukuman dan justru merasakan hukuman yang lebih ketika di akhirat nanti.

3. Usia Beranjak Dewasa (Umur 15-21 Tahun)

Cara mendidik anak dalam Islam sesuai umur
Sumber: unsplash.com

Pada fase middle atau pertengahan sang anak sudah beranjak menuju usia dewasa.

Sang anak mampu berpikir kritis terhadap suatu permasalahan dalam lingkungan sekitarnya, dan berkembang untuk mencari wawasan sebanyak-banyaknya. 

Tak jarang para orangtua dapat melepas pengasuhan sang anak sedikit demi sedikit, sebab dalam fase ini anak dapat mengatasi permasalahan dirinya sendiri.

Anak juga tidak ingin disebut masih kecil dan sebagainya, namun anak pada fase ini mengalami pubertas atau gejolak untuk mengeksplorasi sekitarnya.

Di usia beranjak dewasa, dalam cara mendidik anak dalam Islam sesuai umur beranjak dewasa, setiap anak sudah dikatakan menanggung segala amal perbuatannya sendiri.

Sebagai orangtua, berikan pendidikan Islam yang tepat untuk sang anak agar anak dapat mengontrol dirinya dan berkembang tumbuh ke arah yang positif.

Suatu ketika di masa Rasulullah SAW, ada seorang pemuda yang meminta izin untuk berzina dan disampaikan langsung kepada Rasulullah SAW.

Jika kita yang menghadapi pemuda tersebut, tentu saja kita akan marah-marah dan kesal, akan tetapi berbeda dengan Rasulullah SAW.

Beliau menasehati pemuda tersebut bukan dengan cara menghardiknya, akan tetapi dengan membuat pemuda tersebut berpikir.

Inilah yang dapat menjadi contoh bagi kita dalam cara mengatasi anak muda tersebut.

4. Usia Dewasa (Umur 21 Tahun Lebih)

Cara mendidik anak dalam Islam sesuai umur
Sumber: unsplash.com

Anak yang sudah beranjak dewasa tentunya perlu untuk memahami mana yang baik dan buruk bagi dirinya.

Orangtua juga dapat memberikan kepercayaan kepada anak untuk dapat memilih mana yang terbaik bagi dirinya.

Setelah mendapatkan pendidikan mengenai Islam sejak dini, ajaklah anak untuk berdiskusi, dapat bersosialisasi dengan masyarakat dengan baik dan benar.

Ada hadits yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW dalam cara mendidik anak dalam Islam sesuai umur.

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh At-Tabrani dari Ali bin Abi Thalib RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Didiklah anak-anakmu atas tiga hal:  mencintai nabimu, mencintai ahli baitnya dan membaca Alquran. Sebab, orang yang mengamalkan Alquran nanti akan mendapatkan naungan Allah pada hari ketika tiada naungan kecuali dari-Nya bersama para nabi dan orang-orang yang suci.”

Dengan cara mendidik anak perempuan dan cara mendidik anak laki2 dengan tepat, maka anak akan berkembang menjadi pribadi yang teladan sesuai ajaran Islam.

Kata Bijak Mendidik Anak Sesuai Ajaran Islam

Mengutip Bola.com, terdapat kata-kata motivasi yang bisa dijadikan sebagai referensi serta semangat dalam mendidik anak-anak.

Berikut adalah kumpulan kata kata bijak mendidik anak.

  1. “Anak-anak Anda lebih butuh kehadiran Anda daripada hadiah yang Anda berikan.”
  2. “Anak menginginkan waktu Anda lebih dari segalanya, sebab itu bermainlah bersama mereka, ajari mereka dan sayangi mereka.”
  3. “Anak adalah amanah, hanya dapat dididik sesuai keinginan yang menitipkan-Nya, bukan sesuai dengan hawa nafsu kita.”
  4. “Jangan mengatakan, ‘Berangkatlah untuk shalat, jika tidak kamu akan masuk neraka, Tetapi katakanlah ‘ayo berangkat shalat bersama-sama, agar kita bisa masuk syurga bersama-sama.
  5. “Anak akan mengikuti atau meniru tingkah laku orangtua, bukan nasihat orangtua.”
  6. “Didiklah anak untuk mengenal dan mencintai Allah. Karena anak adalah amanah, dan setiap amanah akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak.”
  7. “Tidak ada terlalu dini untuk menerapkan syariat, sebab jika terlambat kelak penyesalan akan didapat.”
  8. “Setiap anak adalah baik. Allah telah menginstall di dalam dirinya fitrah yang lurus.”
  9. “Lebih baik berpayah-payah dalam mendidik anak selagi belia, daripada syetan lebih dahulu merenggut hatinya, atau pergaulan yang buruk merantainya jauh dari kita.”
  10. “Jika ingin anak Anda berkembang, biarkan mereka mendengar hal yang baik Anda katakan tentang mereka kepada orang lain.”

Begini Cara Luqman Mendidik Anak-Anaknya dengan Menanamkan Tauhid

Cara mendidik anak dalam Islam sesuai umur
Sumber: unsplash.com

Siapa itu Luqmanul Hakim? Sosok yang satu ini kerap populer di telinga umat Muslim.

Para ulama memberikan asal-usul mengenai Luqman, salah satunya adalah Ibnu Abbas yang menyatakan bahwa Luqman yaitu seorang tukang kayu dari Habsyi.

Riwayat lain berkata, ia bertubuh pendek dan berhidung mancung dari Nubah ada pula yang berpendapat dari Sudan, ada pula yang berpendapat sebagai seorang hakim di zaman Nabi Daud AS.

Selain Nabi Muhammad SAW, Nabi Ibrahim AS, terdapat sosok yang namanya terdapat dalam Al-Quran sebagai hikmah yang dapat dipetik oleh umat Muslim, yaitu Luqmanul Hakim.

Luqman memberikan nasihat kepada anak-anaknya sebagai seorang bapak yang penuh kasih terhadap anaknya terutama dalam akidah dan akhlak.

Berikut ini hal penting yang disampaikan oleh Luqman kepada anaknya.

1. Larangan Mempersekutukan Allah

Luqman menjadi sosok ayah yang patut dibanggakan, sebab, namanya terdapat dalam surat Luqman.

Luqman mendidik anak-anaknya dengan menanamkan tauhid yang pertama yaitu larangan untuk mempersekutukan Allah SWT terhadap apapun.

وَاِذْ قَالَ لُقْمٰنُ لِابْنِهٖ وَهُوَ يَعِظُهٗ يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللّٰهِ ۗاِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ

Artinya: ”Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, ”Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”

Pelajaran menanamkan tauhid ini dapat dilakukan sedini mungkin kepada sang anak, yaitu menghindari hal yang bersifat menyekutukan Allah SWT dan mendahului Allah SWT dengan apapun.

2. Berbuat Baik dan Berbakti Kepada Orang Tua

وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصَالُهٗ فِيْ عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَۗ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ

Artinya: “Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.”

Dalam firman tersebut sudah jelas bahwa Allah SWT memerintahkan manusia agar berbuat baik kepada kedua orangtuanya. Dengan berbakti, anak dapat lebih mengerti pengorbanan kedua orangtua dan mampu bersyukur atas nikmat yang Allah berikan.

3. Sadar Terhadap Pengawasan Allah SWT

يٰبُنَيَّ اِنَّهَآ اِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِيْ صَخْرَةٍ اَوْ فِى السَّمٰوٰتِ اَوْ فِى الْاَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللّٰهُ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَطِيْفٌ خَبِيْرٌ

Artinya: “(Lukman berkata), ”Wahai anakku! Sungguh, jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya (balasan). Sesungguhnya Allah Mahahalus, Mahateliti.”

Menerapkan sikap bahwa kita semua selalu diawasi oleh Allah SWT akan menumbuhkan sikap kehati-hatian apabila ingin berbuat maksiat.

4. Mendirikan Shalat Lima Waktu dan Amar Makruf

يٰبُنَيَّ اَقِمِ الصَّلٰوةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوْفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلٰى مَآ اَصَابَكَۗ اِنَّ ذٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْاُمُوْرِ

Artinya: “Wahai anakku! Laksanakanlah salat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting.”

Luqman mendidik anak-anaknya untuk konsisten dalam menjalankan kewajiban shalat lima waktu. Kemudian mengajari anak-anaknya untuk berbuat ma’ruf (kebaikan) dan mencegah yang mungkar.

5. Larangan Sombong dan Membanggakan Diri

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۚ

Artinya: “Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.”

Sesungguhnya Allah SWT tidak suka kepada manusia yang sombong dan membanggakan diri, sebab segala sesuatunya datang dari Allah SWT.

6. Larangan Bersuara Keras

وَاقْصِدْ فِيْ مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَۗ اِنَّ اَنْكَرَ الْاَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيْرِ ࣖ

Artinya: “Dan sederhanakanlah dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.”

Luqman juga mengajari anaknya untuk memiliki etika yang baik dalam kehidupan bermasyarakat. Yaitu jangan berjalan dengan terlalu cepat atau lambat dan melunakkan suara ketika berbicara.

Semoga ulasan mengenai cara mendidik anak dalam Islam sesuai umur dapat menjadi gambaran bagi Anda yang sedang memiliki anak maupun gambaran ketika menjadi orangtua nantinya.

Butuh penghasilan tambahan hanya dari rumah? Tentunya Anda sangat bisa.

Kini hanya dengan modal hp saja dan sambil rebahan, Anda bisa berjualan online melalui aplikasi Evermos.

Yuk gabung sekarang, jangan lewatkan beragam penawaran menariknya!

×