Cara Lapor SPT Tahunan 2022 | Jangan Terlewat, Terakhir 31 Maret!

cara lapor spt tahunan

Cara Lapor SPT Tahunan — Setiap Warga Negara Indonesia yang sudah memiliki penghasilan dan memenuhi syarat tentu akan memikiki. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Bagi warga negara yang memiliki penghasilan wajib untuk melaporkan pajak tahunan (lapor SPT).

Untuk lapor SPT sendiris saat ini sudah bisa dilakukan secara daring. Artinya adalah masyarakat yang ingin lapor SPT tidak perlu lagi repot repot untuk mendatangi kantor pajak terdekat.

Cara mengisi laporan SPT Tahunan saat ini sudah menggunakan e-Filing dan e-Form di DJP Online.

Sebenarnya, apa itu SPT dan bagaimana cara mengisinya? Untuk lebih lengkapnya mari kita simak ulasan berikut ini.

Apa itu SPT Tahunan

cara lapor spt tahunan

sumber : pexels.com

SPT adalah surat yang diisi oleh wajib pajak dan digunakan untuk melaporkan penghitungan dan pembayaran pajak, objek pajak atau bukan objek pajak.

SPT ini digunakan juga sebagai media untuk melaporkan harta dan kewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

Pelaporan SPT Tahunan dilakukan setiap tahun atas tahun pajak setahun sebelumnya.

Jika Anda tidak melapor SPT pajak tahunan, maka Anda dapat dikenai denda.

Pada tahun ini, batas waktu pelaporan pajak bagi wajib pajak pribadi atau pekerja adalah pada tanggal 31 Maret 2022. Sedangkan untuk wajib pajak badan, batas akhirnya adalah 30 April 2022.

Adapun masyarakat yang diharuskan mengisi SPT Tahunan dikategorikan menjadi dua, yakni masyarakat dengan penghasilan di bawah Rp 60 juta pertahun dan di atas Rp 60 juta per tahun.

Baca Juga:  Berita Baik Di Hari Jumat. Gencatan Senjata Israel Palestina. Kemenangan Bagi Umat Muslim

Dua kategori tersebut memiliki cara lapor SPT Tahunan yang tidak sama.

Lantas, bagaimana cara mengisi SPT Tahunan pribadi secara online? Untuk lebih lengkapnya, langsung saja kita simak penjelasan berikut ini.

Cara Lapor SPT Tahunan

cara lapor spt tahunan

sumber : pexels.com

1. Cara lapor SPT Tahunan 1770 SS (Untuk penghasilan bruto di bawah Rp 60 juta setahun)

  1. Buka laman djponline di ” www.pajak.go.id “ kemudian klik Login
  2. Masukkan NPWP dan kata sandi Anda
  3. Kemudian, masukkan kode keamanan/CAPTCHA, dan klik “Login”.
  4. Pilih menu “Lapor”, kemudian pilih layanan “e-Filing”.
  5. Pilih “Buat SPT” dan selanjutnya mengikuti panduan pengisian e-Filing seperti mengisi tahun pajak, status SPT, dan status pembetulan.
  6. Isi BAGIAN “A. PAJAK PENGHASILAN” dengan misal pegawai negeri: masukkan data sesuai dengan formulir 1721-A2 yang diberikan oleh bendahara.
  7. Isi BAGIAN “B. PAJAK PENGHASILAN” dengan misal: Dapat hadiah undian Rp 1.000.000, telah dipotong PPh Final 25 persen (Rp 250.000) dan menerima warisan (dikecualikan dari objek) Rp 2.000.000.
  8. Isi BAGIAN “C. DAFTAR HARTA DAN KEWAJIBAN” dengan Misal: Harta yang dimiliki Motor Yahonda Vamio Rp 15.000.000, kalung emas Rp 3.000.000, dan perabot rumah senilai Rp 7.000.000. Kewajiban yang dimiliki berupa sisa kredit motor sebesar Rp 12.000.000.
  9. Isi BAGIAN “D. PERNYATAAN” dengan klik kotak “Setuju” sampai muncul lambang centang.
  10. Setelah itu, nantinya muncul ringkasan SPT Anda dan pengambilan kode verifikasi.
  11. Selesai, SPT telah diisi dan disubmit. Silakan buka email Anda untuk mengecek Bukti Penerimaan Elektronik (BPE) SPT Anda telah dikirim.

2. Cara lapor SPT Tahunan 1770 S (Untuk penghasilan bruto di atas Rp 60 juta setahun)

  1. Buka djponline di ” www.pajak.go.id ” kemudian klik Login.
  2. Masukkan NPWP dan kata sandi, kemudian masukkan kode keamanan/CAPTCHA dan klik “Login”.
  3. Pilih menu “Lapor”, lalu pilih layanan “e-Filing”.
  4. Pilih “Buat SPT” dan selanjutnya Ikuti panduan yang diberikan, termasuk yang berbentuk pertanyaan.
  5. Jika Anda sudah memiliki pengetahuan yang cukup untuk mengisi Formulir 1770 S dalam bentuk Formulir maka silahkan pilih pengisian form “Dengan Bentuk Formulir”.
  6. Jika Anda masih ingin dipandu dan dipermudah maka pilih pengisian form “Dengan panduan”.
  7. Isikan data yang diperlukan seperti Tahun Pajak, Status SPT, dan Pembetulan dan bukti pemotongan pajak Jika Anda memiliki Bukti Pemotongan Pajak.
  8. Tambahkan dalam langkah kedua, atau klik “Tambah+”.
  9. Isi data Bukti Potong Baru yang terdiri dari Jenis Pajak, NPWP Pemotong/Pemungut Pajak, Nama Pemotong/Pemungut Pajak, Nomor Bukti Pemotongan/Pemungutan, Tanggal Bukti Pemotongan/Pemungutan, dan Jumlah PPh yang Dipotong/Dipungut.
  10. Bagi Anda yang merupakan ASN, maka pemotongan Gaji PNS oleh Bendahara akan dituangkan dalam formulir 1721-A2. Setelah disimpan, akan tertampil dalam ringkasan pemotongan pajak di langkah selanjutnya.
  11. Masukkan Penghasilan Neto Dalam Negeri Sehubungan dengan Pekerjaan.
  12. Tambahkan penghasilan Dalam Negeri Lainnya (bila ada)
  13. Masukkan Penghasilan Luar Negeri (bila ada)
  14. Masukkan Penghasilan yang tidak termasuk obyek pajak (bila ada), Misal: warisan sebesar Rp 10 juta.
  15. Isikan Penghasilan yang telah dipotong PPh Final (bila ada) Misal: Hadiah Undian senilai Rp 20 juta, telah dipotong PPh Final 25 persen (Rp 5 juta).
  16. Tambahkan Harta yang Anda miliki.  Jika tahun sebelumnya Anda sudah melaporkan daftar harta dalam e-Filing, maka Anda dapat menampilkan kembali dengan klik “Harta Pada SPT Tahun Lalu”.
  17. Tambahkan Utang yang Anda miliki.  Jika tahun sebelumnya Anda sudah melaporkan daftar utang dalam e-filing, Anda dapat menampilkannya kembali dengan memilih “Utang Pada SPT Tahun Lalu”.
  18. Tambahkan tanggungan yang Anda miliki. Jika tahun sebelumnya Anda sudah melaporkan daftar tanggungan dalam e-filing, Anda dapat menampilkannya kembali dengan memilih “Tanggungan Pada SPT Tahun Lalu”.
  19. Isi juga Zakat/Sumbangan Keagamaan Wajib yang Anda bayarkan ke Lembaga Pengelola yang disahkan oleh Pemerintah.
  20. Isi “Status Kewajiban Perpajakan Suami Istri” yang sesuai. Dalam hal ini, mohon diperhatikan jika Anda melakukan kewajiban perpajakan secara terpisah dengan suami/istri, hidup berpisah, atau melakukan perjanjian pemisahan harta.
Baca Juga:  Cara Merawat Bunga Keladi Agar Subur dan Berdaun Lebat

Sanksi Tidak Lapor SPT Tahunan

Lapor SPT Tahunan sifatnya adalah wajib, jadi artinya, jika kita terlambat atau tidak melapor, akan ada sanksi tidak lapor SPT tahunan berupa denda hingga pidana.

Sanksi ini tercantum dalam Undang-Undang (UU) Ketentuan Umum Perpajakan (KUP). Berdasarkan Pasal 7 UU KUP, besaran sanksi sebesar Rp 100 ribu untuk SPT Tahunan WP OP dan Rp 1 juta untuk SPT Tahunan WP Badan.

Biaya denda ini masih bisa bertambah jika wajib pajak yang seharusnya membayar denda terlambat menyetor uang denda.

Penambahan biaya denda ini akan mengikuti tingkat suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) lalu ditambah 5 persen dan dibagi 12 bulan.

Demikianlah ulasan mengenai cara lapor SPT Tahunan. Semoga dengan adanya artikel ini bisa menjadi panduan Anda untuk lapor pajak di tahun 2022 ini.

Mari bersama patuh dan menjadi warga negara yang taat dengan mengisi SPT Tahunan secara jujur dan apa adanya.

Jangan lupa juga untuk mengisikan SPT tepat waktu untuk menghindari denda ya.

Untuk membaca artikel menarik lainnya, Anda bisa mengunjungi situs Blog Evermos

Share:
Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
×