Amma Badu: Arti, Sejarah dan Penjelasan Lengkapnya

Amma badu – Salah satu kewajiban laki-laki muslim adalah sholat Jumat. Dalam sholat Jumat, rukun yang ada di dalamnya adalah mendengarkan khutbah.

Ketika sholat Jumat, Anda mungkin sudah tidak asing lagi ketika mendengar kalimat amma badu. Kalimat ini biasa disebutkan di awal khutbah Jumat oleh khotib (yang berkhutbah).

Biasanya seorang khotib akan menyebutkan kalimat amma badu di sela-sela pembukaan khutbah.

Namun apakah Anda mengetahui arti dari amma badu? Jika belum, berikut ini artikel tentang arti amma badu, sejarah, dan penjelasan lengkapnya. 

Arti Amma Badu

arti amma badu
Sumber: google.com/bersosial

Kalimat amma badu digunakan sebagai kalimat sambung atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan konjongsi.

Bisanya dikatakan di dalam sebuah kalimat pembuka atau mukadimah di dalam khutbah Jumat.

Dilansir dari kumparan.com dalam buku Ensiklopedia Ibadah Sholat Jumat karya Wawan Shofwan Sholehuddin, amma badu artinya “adapun setelah itu”.

Berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Rasulullah SAW sering mengucapkan kalimat ini setelah beliau mengucapkan dua kalimat syahadat dalam tahmid. 

“Dari Al-Miswar bin Makhramah, ia mengatakan, ‘Rasulullah SAW berdiri (berkhotbah) maka aku mendengar setelah beliau ber-tasyahud mengucapkan ‘Amma ba’du’.” (HR. Al-Bukhari).

Kalimat amma badu selain sebagai kata sambung, secara harfiah juga diartikan sebagai fashlul khithab atau pemisah antara bahasan yang satu dengan bahasan berikutnya.

Namun, dalam bahasa Arab, kalimat ini tidak hanya diucapkan ketika khutbah saja. Banyak karya tulis Arab dan permulaan surat yang menggunakan kalimat ini.

Asal Muasal Kalimat Amma Badu

Asal kata amma badu
Sumber: google.com/bersosial

Secara gramatikal bahasa Arab (ilmu nahwu), kata dasar amma badu terdiri dari dua kata yaitu amma dan badu.

1. Asal kata amma

Jika dua kalimat tersebut diurai satu per satu, maka kata amma (أمَّا) berasal dari kalimat:

 مَهْمَا يَكُنْ مِنْ شَيْئٍ بَعْدُ

Imam al-Baijuri memberikan penjelasan yang lebih lengkap lagi, berikut ini penjelasannya:

والأصل الأصيل: مهما يكن من شيئ بعدُ. فـــ “مهما” اسم شرط مبتدأ، ويكن فعل الشرط، وهو مضارع “كان” التامة، وفاعله ضمير مستتر تقديره “هو” يعود على “مهما” و “من شيئ” بيان لمهما وإن كان شأن البيان للتخصيص. فقد يكون مساويا إشارة إلى أن المراد الجنس بتمامه.   

Artinya: “Asalnya مهما adalah isim syarat yang menjadi mubtada’, يكن sebagai fi’il syarat, mudhari’ dari madhi كان dengan fa’il berupa dhamir mustatar dengan mengira-ngirakan adanya lafaz هو yang kembali pada مهما. Sedangkan من شيئ sebagai penjelas dari مهما meskipun sifatnya penjelas adalah takhsish namun juga terkadang mempunyai sifat sama yang menunjukkan kesempurnaan jenis tersebut” (Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyah al-Allamah al-Baijuri ala Jauharotit Tauhid, [Darus Salam: 2002], hlm. 53).

Selain Imam al-baijuri, ada penjelasan lain dari Syekh Ibrahim. Berikut ini penjelasan lengkapnya:

فحذفت “مَهْمَا” و “يَكُنْ” و “من شيئ” وأقيمت “أَمَّا” مقام ذلك، ثم ان بعضهم ينطق بذلك ويقول “أما بعد” كما هو السنة، وبعضهم يحذف “أما” ويأتي بدلها بالواو، فيقول “وبعد” كما هنا، فالواو نائبة النائب.   

Artinya: “Kemudian مهما، يكن، من شيئ dibuang, lalu ganti dengan أما untuk menduduki posisi tersebut. Berikutnya, sebagian ulama membaca “أما بعد” sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Muhammad ﷺ. Sebagian ulama lain ada yang membuang أمَّا seraya menggantinya dengan wawu, maka menjadi وبعد. Wawu di sini berkedudukan menjadi penggantinya pengganti.”

2. Asal kata badu

Selanjutnya adalah dari mana asal kata badu? Dalam ilmu nahwu pembahasan tentang badu atau ba’d cukup panjang. 

Namun berikut ini merupakan penjelasan singkat tentang kata badu:

فإن نوي معنى المضاف إليه دون لفظه، بنيا على الضم، نحو: {لِلهِ الْأَمْرُ مِنْ قَبْلُ وَمِنْ بَعْدُ}، في قراءة الجماعة.   

Artinya: “Jika diniatkan makna mudhaf ilaih tanpa menyebut lafaznya maka dimabnikan dhammah. Contohnya adalah لِله الْأَمْرُ مِنْ قَبْلُ وَمِنْ بَعْدُ sesuai bacaan qiraah jama’ah. (Ibnu Hisyam, Audhahul Masalik, [Darul Fikr], juz 3, hlm. 135).

Jadi, secara harfiah kalimat amma badu adalah sebagai pemisah atau disebut dengan fashlul khithab.

Sejarah yang Pertama Kali Menggunakan Kalimat Amma Badu

Sejarah amma badu
Sumber: google.com/bersosial

Selanjutnya Syekh Imam al-Baijuri mengatakan bahwa orang yang pergtama kali menggunakan kalimat amma badu adalah nabi Daud as.

Beliau berpendapat, ada perbedaan pendapat mengenai siapa yang pertama kali menggunakan kalimat ini. Namun yang paling mendekati kebenarannya adalah Nabi Daud as yang pertama kali menggunakan kalimat ini.

Pendapat ini diperkuat oleh pendapat dari Abu Musa Al-Asy’ari ra. beliau mengatakan: 

أول من قال أمَّا بعدُ داودُ وهو فصل الخطاب

“Orang yang pertama kali mengucapkan ‘amma ba’du’ adalah Nabi Daud ‘alaihis salam, dan itu adalah fashlal khitab.” (Al-Awail Ibni Abi Ashim, no. 188; Al-Awail Ath-Thabrani, no. 40)

Selain pendapat dari Syekh Imam al-Baiujuri dan Abu Musa Al-Asy’ari ra, ada juga yang berpendapat soal ini.

Adalah Al-Hafidz Ibnu Hajar, beliau mengatakan ada orang lain yang pertama menyebutkan kalimat amma badu. 

Orang-orang tersebut adalah Nabi Ya’qub as, Ya’rib bin Qahthan, Ka’ab bia Luai, Qais bin Saidah, dan Subhan.

Namun yang paling makhruf, orang yang pertama kali menggunakan kalimat ini adalah Nabi Daud as. Allahu a’lam.

Kemudian kalimat ini secara turun temurun digunakan sebagai salah satu kalimat di dalam khutbah atau ceramah yang kemudian menyebar luas ke Indonesia.

Demikianlah ulasan tentang arti amma badu lengkap beserta sejarahnya. Jika Anda ingin membaca artikel islami lainnya silahkan kunjungi situs Blog Evermos. Semoga bermanfaat!

×